Selasa, 24 Mei 2016

Kisah Nyata, Semakin Banyak Menyantuni Anak Yatim Semakin Banyak Rejeki Mengalir

Sudah 7 Tahun saya merantau dari sumatera ke jakarta. Mencoba mengubah nasib, itulah alasannya ketika ditanya mengapa merantau ke jakarta. Mungkin saja Jakarta yang biasa saya lihat di Tv dapat mengubah garis hidup saya kala itu.

Kemampuan saya kala itu adalah berjualan. Dan saya memutuskan berjualan masakan Nasi Padang, khas tanah kelahiran saya. Waktu itu, saya mengontrak rumah kecil di daerah Jakarta Timur. Alhamdulillah, saat berjualan tidak pernah sepi walaupun warungnya masih kecil. Ya, kalau untuk kebutuhan sehari-hari masih tercukupi. Biasanya untuk menghemat pengeluaran, semua saya kerjakan sendiri seperti belanja bahan-bahan, memasak, dan melayani pembeli.
Hingga suatu hari, warung yang berada persis di samping saya mendapat musibah. Tetangga saya meninggal dunia, 6 orang anaknya menjadi yatim. Pasca kematian itu, kehidupan istri beserta anak-anaknya sangat memprihatinkan. Pada saat itu, tiba-tiba ada keinginan untuk membantu mereka. Mengingat kondisi saya yang masih terbatas, maka saya hanya bisa membantu mereka dengan memberi makan gratis di warung saya.

Bertahun-tahun saya lakukan semua itu tanpa tahu maknanya. Saya gak tau sama sekali hadis nabi tentang anak yatim, sholat saja saya masih suka bolong-bolong. Maklum saja, di kampung sana saya masih belum mengenal arti hidup yang sesungguhnya. Semakin lama tak terasa anak yatim  yang saya santuni semakin bertambah, dari yang jumlahnya hanya 6 orang hingga akhirnya sekarang alhamdulillah saya mengasuh 150 anak yatim.

Subhanallah memang, kalau bukan karena Allah SWT, tidak mungkin anak-anak yatim berdatangan ke warung saya. Setiap hari jumat rutin, mereka semua berkumpul di warung saya untuk makan bersama. Seusai makan biasanya saya memberikan amplop dengan nominal yang tidak terlalu besar. Banyak sekali dari teman-teman yang bertanya mengenai tindakan saya. Apa tidak rugi? Entahlah, saya tidak terlalu menghiraukan. Faktanya malah warung saya semakin ramai oleh pembeli semenjak kedatangan anak-anak yatim itu.
Saya sampai tidak percaya dengan perubahan yang terjadi dalam hidup saya. Dari menyewa warung kecil hingga akhirnya saya bisa membeli bahkan saya membelinya serta merenovasinya. Tidak sampai distu saja, kini saya bisa memiliki rumah sendiri di Jakarta serta saya sudah bisa membuka cabang warung padang dimana-mana. Bahkan saya bisa membawa keluarga pindah ke jakarta.

Subhanallah. Maha Suci Allah!

Berkah menyantuni anak yatim benar-benar terasa saat memasuki bulan ramadhan. Disaat pengusaha makanan yang lain merasa was-was dengan omset tapi kami alhamdulillah santai saja. Bayangkan saja, dari subuh hingga ashar tidak ada sama sekali pemasukan. Kami masih bertahan. Logikanya memang sulit dibayangkan kalau sudah Allah yang merencanakan.
Yang saya garis bawahi adalah keyakinanan. Jika kita memang sudah berprasangka buruk dengan banyaknya kerugian yang didapat selama di bulan ramadhan maka itulah yang akan terjadi pada diri kita. Nah, sebaliknya jika kita pintar berprasangka baik kepada Allah maka itu juga yang akan terjadi pada kita.

Berkat husnuzhon kami dan konsistensi kami memelihara anak yatim maka alhamdulillah kami sekeluarga beserta karyawan libur sebulan penuh dan fokus beribadah. Lho kok bisa? Inilah rahasia ilahi. Entah mengapa, sebulan sebelum puasa biasanya Allah sudah menyiapkan rejeki kami sebelum memasuki bulan ramadhan. Biasanya orderan membludak dan pembeli benar-benar rame ketika itu. NAh setelah itu, kami tinggal menghitung uang untuk persiapan ramadhan sekaligus idul fitri.

Saya selalu ingat pada satu ayat Al Quran yang mengatakan,

“مَن ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضاً حَسَناً فَيُضَاعِفَهُ لَهُ وَلَهُ أَجْرٌ كَرِيمٌ

“Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipat-gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak.” [QS. Al-Hadid: 11]

Semoga saja kisah saya ini dapat menginpirasi para pembaca untuk turut serta menyantuni anak yatim dan selalu berbaik sangka kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Jangan pernah “itung-itungan dengan-Nya karena selama ini Dia tak pernah “itung-itungan” sama kita yang  telah banyak diberi nikmat.

Akhir kata saya hanya ingin berucap ,  “Hasbunallah wa ni’mal wakil, ni’mal maula wa ni’man nashir”. (Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung).

“Ya allah, sesungguhnya hanya dengan bersyukur hati menjadi sejuk. Saya percaya sekali bahwa semua kesulitan, ketakutan, rejeki dan seluruh isi alam raya ini hanya milik Allah. Maka dari itu jangan pernah berpaling dari-Nya. Sekalipun!

[Kisah nyata ini diambil dari wawancara langsung dengan Pak Abdullah dengan hidayatullah.com, di warungnya yang berada di Jakarta Timur]

=============================================

Yuk kita berdonasi untuk anak yatim dan duafa, semoga saja Allah melipatgandakan kenikamatan kita di dunia ini. Silahkan berdonasi ke rekening a.n YAYASAN HUDA CENDIKIA

BRI Syari'ah : 210 2222 222
BNI Syari'ah : 0286 - 885 - 418
Mandiri Syari'ah : 704 0950 208

Konfirmasi pengiriman : Muhammad Nurkholis Annajah ( Nuy Sorga )
No Hp : 089639593248

Syukron,Jazakumullah khairon kasiran

Apapun yang kalian Inginkan Berdo'alah kepada Allah

Sahabat,dalam islam kita dianjurkan untuk selalu dan selalu berdoa memohon kepada Allah. Dalam hidup ini kita sering mendengar kisah-kisah tentang keajaiban doa dimana doa itu seakan cepat sekali di ijabah oleh Allah. di sisi lain kita juga sering berdoa dan berharap doa kita segera dikabulkan tapi ternyata Allah belum berkehendak. sekarang pernakah terbersit di benak kalian “kenapa Allah belum mengabulkan doa kita“

Sahabat, percayalah Allah pasti akan mengabulkan doa setiap hamba yang memohon pada-Nya seperti Firman berikut yang artinya:

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah- Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”

(Al- Baqarah 186)

doa seorang mukmin yang selalu menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya tidak akan pernah sia-sia. Pada hakekatnya semua doa yang kita panjatkan pasti akan di kabulkan oleh-Nya. Namun ternyata hanya sedikit dari kita yang menyadari Indahnya cara Allah mengabulkan doa kita. mengapa saya katakan indah, karena sesungguhnya ketika doa yang sahabat panjatkan belum terkabul ternyata tanpa kita sadari Allah telah mengabulkan doa yang kita panjatkan dengan memberi sesuatu yang jauh lebih baik dari apa yang kita harapkan dalam do’a kita. Coba sahabat perhatikan sebuah hadist riwayat imam Ahmad dari Abu Said al-Khudri Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Tidak ada orang muslim yang berdoa meminta kepada Allah s.w.t. dengan doa, dimana didalamnya tidak ada dosa dan ia tidak memutuskan tali silaturrahmi, kecuali Allah akan memberinya antara tiga perkara: pertama Allah akan mengabulkan doanya dengan segera ; kedua: Allah akan menyimpan doanya (sebagai suatu pahala) di akhirat, dan; ketiga: Allah akan memalingkan dan menghindarkannya dari suatu keburukan yang sebanding dengan doanya itu.”

Janganlah kita menghakimi diri kita sendiri hanya karena doa kita belum di kabulkan-Nya. seorang mukmin yang sedang sakit keras misalnya ketika dia memanjatkan doa agar di berikan kesembuhan ternyata Allah mencabut nyawanya. apakah sahabat berfikir Allah telah menolak mengabulkan doanya? sahabat, boleh jadi Allah tidak menginginkan orang mukmin tadi berlama-lama dalam penderitaannya melawan penyakit dan Allah menyegerakannya untuk segera menikmati surganya yang kekal sebagai jawaban atas kesabarannya . dan jika kita masih tidak percaya Allah mengabulkan doanya, apakah balasan surga lebih buruk dari pada kesembuhannya padahal boleh jadi ketika dia sembuh dia bisa saja ingkar kepada Allah

Sahabat, ternyata begitu indahnya cara Allah mengabulkan doa hambanya. Dia Maha Tahu apa yang terbaik bagi hambanya. Kalaupun doa kita masih belum di kabulkan, percayalah Allah pasti telah menyiapkan bingkisan yang jauh lebih indah dari apa yang kita bayangkan sebelumnya. semoga tulisan ini bermanfaat dan jika ada salah kata saya mohon maaf  karena kesalahan sesungguhnya datang dari saya dan kebenaran mutlak hanya datang dari Allah SWT.

Senin, 23 Mei 2016

Berawal dari sebuah Apel hingga bertemu dengan Jodoh

Kisah Tsabit bin Ibrahim
Tersebutlah seorang lelaki saleh bernama Tsabit bin Ibrahim. Ketika itu ia sedang melakukan perjalanan di pinggiran kota Kufah. Matahari bersinar sangat terik. Cuaca panas membuat kerongkongan kering sehingga haus pun menyerang.

Tanpa sengaja ia melihat sebuah apel ranum berwarna merah menyala tergeletak di hadapannya. Tanpa pikir panjang, ia segera mengambil dan menikmati buah merah tersebut untuk menghalau dahaganya.

Belum habis buah itu di tangannya, ia segera tersadar bahwa apel itu bukan miliknya, "Astasfirullah, aku memakan yang bukan hakku. Siapakah pemilik apel ini?" gumam Tsabit.

Perasaan gelisah menghantuinya. Dicarinya pohon apel yang tumbuh di sekitar. Ia sangat berharap agar si pemilik apel mau merelakan apel yang ada di tangannya itu untuk dimakan.

Setelah menelusuri jalanan itu, akhirnya tidak jauh dari tempatnya sederet pohon apel dengan buahnya yang merekah kukuh berdiri di sebuah kebun yang luas. Tsabit melihat seorang lelaki di dalam kebun tersebut, "Mungkin dia pemilik apel ini," pikir Tsabit.

Ia pun menghampirinya dan mengucapkan salam, lalu bertanya, "Apakah engkau pemilik kebun ini? Saya telah memakan apel Anda, untuk itu saya mohon maaf. Sudilah kiranya engkau merelakan apel ini agar halal untuk kumakan," pinta Tsabit.

Lelaki tersebut berkata, "Aku bukan pemilik apel itu. Saya hanyalah seorang penjaga kebun di sini."

"Baiklah, jika demikian di manakah rumah majikanmu?"

"Butuh waktu sehari semalam tiba di sana. Perjalanannya pun tidak mudah. Mengapa tidak kaumakan saja apel itu? Toh, ia tidak akan memedulikan sebuah apel itu karena hasil kebunnya begitu melimpah ruah!" usul si penjaga kebun.

"Sejauh apa pun rumahnya, aku harus tiba di sana meskipun harus melalui berbagai rintangan. Sebagian apel ini sudah aku telan, artinya di dalam tubuh ini terdapat makanan yang tidak halal bagiku karena belum meminta izin pemiliknya. Bukankah Rasulullah saw. bersabda, 'Setiap daging yang tumbuh dari makanan haram maka api nerakalah yang layak baginya' " tukas Tsabit tegas.

Melihat keteguhan hati Tsabit, si penjaga kebun akhirnya memberi tahu arah perjalanan menuju rumah majikannya. Tsabit berterima kasih atas kesediaan penjaga kebun memberi tahu alamat majikannya. Tanpa buang waktu, Tsabit segera beranjak menuju rumah pemilik apel.

Perjalanan mendaki dan berbatu ia lalui, sungai pun ia seberangi agar ia dapat bertemu dengan pemilik apel. Begitu risaunya ia akan peringatan dari Rasulullah saw.

Setelah menempuh perjalanan berliku, tibalah ia di depan rumah pemilik apel. Ia mengetuk pintu rumah sambil mengucapkan salam. Seorang lelaki tua membukakan pintu untuknya.

"Wa'aiaikum salam warahmatullahi wabarakatuh, ada apa anak muda?" tanyanya. Rupanya dialah pemilik kebun itu.

"Wahai Tuan, kedatangan saya ke sini untuk meminta keikhlasanmu atas buah apel yang terlanjur aku makan. Semoga engkau memaafkanku," Tsabit menjelaskan apa yang merisaukannya kepada si pemilik kebun.

Pemilik kebun menyimak dengan saksama. Lalu ia berkata, "Aku tidak akan menghalalkannya kecuali dengan satu syarat!"

"Apakah itu, Tuan?"

"Kamu harus menikahi putriku dan aku akan menghalalkan apel itu untukmu."

Tentu saja Tsabit terkejut dengan syarat itu. Haruskah ia menebus kesalahannya dengan pernikahan? Belum habis keterkejutan Tsabit, lelaki tua pemilik apel itu melanjutkan, "Putriku bisu, tuli, buta, dan lumpuh. Bagaimana? Apakah kamu menyanggupinya?"

Tsabit makin terkejut. Ia harus menikahi perempuan cacat yang akan mendampinginya seumur hidup. Namun, ia tidak memiliki pilihan lain. Jika jalan ini dapat membuka pintu ampunan Allah SWT, ia harus menjalaninya dengan ikhlas. Tsabit pun menyanggupinya.

Pernikahan pun diselenggarakan. Mempelai wanita menanti di dalam rumah saat akad nikah berlangsung. Selesai dilakukan akad nikah, Tsabit dipersilakan oleh sang mertua untuk menemui putrinya yang kini telah sah menjadi istri Tsabit.

Ia mengetuk kamar yang ditunjuk sambil mengucapkan salam. Ketika Tsabit hendak
membuka pintu kamar, terdengar suara wanita menjawab salamnya. Ia urung masuk ke dalam kamar itu karena yang ia tahu istrinya bisu, tuli, dan buta, "Oh, maaf, aku salah kamar!" ujar Tsabit.

"Kau tidak salah. Aku istrimu yang sah!" kata wanita di dalam kamar itu, "silakan masuk, wahai suamiku!"

Tsabit benar-benar dibuat bingung dengan semua kejadian yang belakangan ini ia hadapi. Rasanya mustahil jika sang pemilik kebun berdusta tentang putrinya. Apa untungnya bagi dia?

Ketika Tsabit masih berdiri tertegun di depan kamar, tiba-tiba pintu kamar terbuka. Yang membuka adalah seorang wanita cantik yang sehat wal afiat tanpa cacat seperti yang dikatakan mertuanya. Ia makin yakin bahwa ini bukanlah istrinya.

Tsabit bertanya kepada wanita yang berdiri di hadapannya itu, "Jika kau benar istriku, ayahmu berkata bahwa kau buta. Tetapi, mengapa kamu bisa melihat?"

"Ayahku benar, mataku buta karena tidak pernah melihat apa-apa yang diharamkan Allah," jawab putri pemilik kebun buah itu.

"Lalu, mengapa ayahmu mengatakan kamu tuli? Padahal, kau dapat mendengar salamku!" tanya Tsabit kembali.

"Itu juga benar, beliau tahu bahwa aku tidak pernah mau mendengar berita atau cerita yang tidak diridai Allah SWT," jelas sang istri.

"Kau pun tidak bisu seperti yang dikatakan ayahmu? Apa artinya?"

"Aku bisu karena tidak pernah mengatakan dusta dan segala sesuatu yang tercela. Aku banyak menggunakan lidahku untuk menyebut asma Allah."

"Terakhir, apa maksud ayahmu mengatakan kau lumpuh?" tanya Tsabit lagi.

"Itu karena aku tidak pernah pergi ke tempat-tempat yang dibenci Allah."

Betapa bahagianya Tsabit bahwa yang ia nikahi adalah sosok wanita salehah yang sempurna fisiknya dan cantik bak purnama di kegelapan malam. Dari hasil pernikahan mereka lahirlah ulama yang menjadi imam terbesar bagi umat Islam, yaitu Imam Abu Hanifah An-Nu'man bin Tsabit.

Dalam hal ini, Rasulullah saw pernah berpesan dalam sabdanya, "Berjanjilah kepadaku enam hal dan aku akan menjanjikan engkau surga. Bicaralah jujur (benar), tepati janjimu, penuhi kepercayaanmu, jaga kesucianmu, jangan melihat yang haram, dan hindarilah apa yang dilarang." (HR Bukhari, Muslim, dan Abu Daud)

Pilihan Allah adalah yang Terbaik

AKU minta pda Allah setangkai bunga segar, Dia beri aku kaktus Berduri...

AKU minta pda Allah binatang yg mungil dan cantik, Dia beri aku ulat bulu....

Aku sedih, protes , kecewa betapa tidak adilnya ini .....
Namun kemudiaaan......"

Kaktus itu berbunga indah , bahkan sangat indah...

Ulat itu berubah menjadi kupu2 yg sangat cantik...

Ingatttlahh temen2 ...

Allah tdk memberi apa yg kita harapkan, tapi dia memberi apa yg kita perlukan...

Allah tdk memberi apa yg kita minta , tapi memberi apa yg terbaik untuk kita...

Setujuuuuuuuuuuuu ???

#Nuy_Sorga